Bagian 13



أَيُهَا الْوَلَدُ..!! رُوِيَ فِي بَعْضِ وَصَايَا لُقْمَانَ الْحَكِيْمِ لِابْنِهِ أَنَّهُ قَالَ: يَا بُنَيَّ، لَا يَكُوْنَنَّ الدِّيْكُ أَكْيَسُ مِنْكَ، يُنَادِي بِالْأَسْحَارِ وَأَنْتَ نَائِمٌ.

Wahai anakku !. Diriwayatkan dalam sebagian washiyat Lukman al Hakim kepada putranya, ia berkata; “Wahai anak kecilku, janganlah sekali-kali ayam jago itu lebih pintar darimu, ia berkokok di waktu sahur, sementara kamu masih tidur”.


وَلَقَدْ أَحْسَنَ مَنْ قَالَ شِعْرًا:

Sungguh indah seorang penya’ir berkata;


هَتَفَتْ فِي جُنْحِ اللَّيْلِ حَمَامَةٌ *عَلَى فَنَنٍ وَهْنًا وَإِنِّي لَنَائِمُ

Sungguh, burung merpati telah merintih di tengah kegelapan malam, Di atas dahan penuh dengan kesedihan, sedang diriku tertidur pulas


كَذَبْتُ وَبَيْتِ اللهِ لَوْ كُنْتُ عَاشِقًا *لَمَا سَبَقَتْنِي بِالْبُكَاءِ الْحَمَائِمِ

Demi Allah aku telah berdusta, jika aku merasa rindu kepada Allah, Namun kenyataannya burung merpati itu menangis mendahuluiku


وَأَزْعَمُ أَنِّي هَائِمٌ ذُوْ صَبَابَةٍ * لِرَبِّي فَلَا أَبْكِي وَتَبْكِي الْبَهَائِمُ؟!

Aku mengira bahwa aku adalah orang yang bingung yang dapat mencucurkan air mata, Karena rindu kepada Tuhanku, namun kenapa aku tidak menangis sedang binatang-binatang itu menangis