Bagian 15



أَيُهَا الْوَلَدُ..!! يَنْبَغِي لَكَ أَنْ يَكُوْنَ قَوْلُكَ وَفِعْلُكَ مُوَافِقًا لِلشَّرْعِ؛ إِذِ الْعِلْمُ وِالْعَمَلُ بِلَا اقْتِدَاءِ الشَّرْعِ ضَلَالَةٌ، وَيَنْبَغِي لَكَ أَلاَّ تَغْتَرَّ بِالشَّطْحِ وَطَامَّاتِ الصُّوْفِيَّةِ؛ لِأَنَّ سُلُوْكَ هَذَا الطَّرِيْقِ يَكُوْنُ بِالْمُجَاهَدَةِ وَقَطْعِ شَهْوَةِ النَّفْسِ وَقَتْلِ هَوَاهَا بِسَيْفِ الرِّيَاضَةِ، لَا بِالطَّامَّاتِ وَالتُّرَّهَاتِ. ((( أي الأباطيل ))).

Wahai anakku !. Adalah suatu keharusan bagimu bahwa ucapan dan perbuatanmu senantiasa sesuai dengan peraturan syara’, karena ‘ilmu dan ‘amal tanpa mengikuti syara’ adalah sesat. Dan seharusnya kamu tidak terpedaya oleh pengakuan (yang di ada-adakan tentang cinta kepada Allah Ta’ala) dan kepalsuan kaum shufi, karena menempuh jalan ini harus dengan usaha yang sungguh-sungguh, mematahkan keinginan jahat dan memerangi hawa nafsu dengan senjata melatih diri, bukan dengan kesesatan dan kebatilan.


وَاعْلَمْ أَنَّ اللِّسَانَ الْمُطْلَقَ وَالْقَلْبَ الْمُطْبَقَ الْمَمْلُوْءَ بِالْغَفْلَةِ وَالشَّهْوَةِ عَلَامَةُ الشَّقَاوَةِ، فَإِذَ لَمْ تَقْتُلْ النَّفْسَ بِصِدْقِ الْمُجَاهَدَةِ فَلَنْ يَحْيَا قَلْبُكَ بِأَنْوَارِ الْمَعْرِفَةِ.

Ketahuilah bahwa lisan yang tidak terkontrol, hati terkunci yang penuh dengan kelalaian dan hawa nafsu adalah tanda tanda celaka. Apabila kamu tidak segera memerangi hawa nafsu dengan usaha yang sungguh-sungguh, maka hatimu tidak akan hidup dengan penuh cahaya mengenal Allah.


وَاعْلَمْ أَنَّ بَعْضَ مَسَائِلِكَ الَّتِي سَأَلْتَنِي عَنْهَا لَا يَسْتَقِيْمُ جَوَابُهَا بِالْكِتَابَةِ وَالْقَوْلِ، إِنْ تَبْلُغْ تِلْكَ الْحَالَةَ تَعْرِفْ مَا هِيَ! وَإِلَّا فَعِلْمُهَا مِنَ الْمُسْتَحِيْلَاتِ؛ لِأَنَّهَا ذَوْقِيَّةٌ، وَكُلُّ مَا يَكُوْنُ ذَوْقِيًّا، لَا يَسْتَقِيْمُ وَصْفُهُ بِالْقَوْلِ، كَحَلَاوَةِ الْحُلْوِ وَمَرَارَةِ الْمُرِّ، لَا تُعْرَفُ إِلَّا بِالذَّوْقِ،

Dan ketahuilah bahwa sebagian masalah yang kamu tanyakan kepadaku tidak mungkin dapat dijawab dengan tulisan dan ucapan. Kelak apabila kamu telah mengalami keadaan tersebut, kamu akan tahu apa jawabannya. Jika belum mengalaminya, maka mencari tahu tentangnya termasuk perkara yang mustahil, karena masalah tesebut adalah bershifat perasa, dan semua perkara yang hanya dapat diketahui dengan indra perasa tidak mungkin dapat digambarkan dengan kata-kata, seperti rasa manisnya manisan dan pahitnya empedu, kamu tidak akan dapat mengetahuinya kecuali dengan mencicipinya.


كَمَا حُكِيَ أَنَّ عِنِّيْنًا كَتَبَ اِلَى صَاحِبٍ لَهُ: أَنْ عَرِّفْنِي لَذَّةَ الْمُجَامَعَةِ كَيْفَ تَكُوْنُ؟

Demikian itu sebagaimana yang diceritakan bahwa seseorang yang menderita impotensi mengirim surat kepada shahabatnya yang isinya; “Beritahukan kepadaku tentang ni’matnya bersenggama, bagaimanakah rasanya?”.


فَكَتَبَ لَهُ فِي جَوَابِهِ: يَا فُلَانُ، إِنِّي كُنْتُ حَسِبْتُكَ عِنِّيْنًا فَقَطْ، وَالْآنَ عَرَفْتُ أَنَّكَ عَنِّيْنٌ وَأَحْمَقُ؛ لِأَنَّ هَذِهِ اللَّذَّةَ ذَوْقِيَّةٌ، إِنْ تَصَلَ إِلَيْهَا تَعْرِفْ، وَإِلَّا لَا يَسْتَقِيْمُ وَصْفُهَا بِالْقَوْلِ وَالْكِتَابَةِ.

Lalu shahabatnya menulis surat sebagai jawabannya; “Wahai fulan, sungguh dulu aku mengira bahwa kamu hanya menderita inpotensi saja, dan kini aku tahu bahwa kamu bukan hanya impoten tapi juga dungu, karena keni’matan ini bershifat perasa. Apabila kamu telah mengalaminya, pasti kamu mengetahunya, namun jika belum, ia tidak dapat digambarkan dengan kata-kata atau tulisan”.