Bagian 21



أَيُّهَا الْوَلَدُ..!! إِنِّي أَنْصَحُكَ بِثَمَانِيَةِ أَشْيَاءَ، اِقْبَلْهَا مِنِّي لِئَلَّا يَكُوْنَ عِلْمُكَ خَصْمًا عَلَيْكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، تَعْمَلُ مِنْهَا أَرْبَعَةً، وَتَدَعُ مِنْهَا أَرْبَعَةً:

Wahai anakku !. Aku nasehatkan kepadamu delapan perkara, terimalah ia dariku agar ‘ilmumu tidak menjadi musuh bagimu kelak pada hari kiamat, ‘amalkanlah empat perkara darinya dari tinggalkanlah empat perkara lainnya:


أَمَّا اللَّوَاتِي تَدَعُ: فَأَحَدُهَا: أَلَّا تُنَاظِرَ أَحَدًا فِي مَسْأَلَةٍ مَا اسْتَطَعْتَ

Adapun empat hal yang harus kamu tinggalkan ialah; Pertama; Janganlah kamu mendebat seseorang dalam suatu masalah yang kamu belum mampu menguasainya


لِأَنَّ فِيْهَا آفَاتٍ كَثِيْرَةً، فَإِثْمُهَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهَا، إِذْ هِيَ مَنْبَعُ كُلِّ خُلُقٍ ذَمِيْمٍ كَالرِّيَاءِ وَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالْحِقْدِ وَالْعَدَاوَةِ وْالْمَبَاهَاةِ وَغَيْرِهَا.

karena dalam perdebatan itu dapat menimbulkan malapetaka yang banyak, dan dosanya lebih besar daripada manfa’atnya . Karena perdebatan itu merupakan sumber dari segala akhlak yang tercela seperti riya’ (pamer), dengki, sombong, dendam, permusuhan, mebanggakan diri, dan lain sebagainya.


نَعَمْ لَوْ وَقَعَ مَسْأَلَةٌ بَيْنَكَ وَبَيْنَ شَخْصٍ أَوْ قَوْمٍ، وَكَانَتْ إِرَادَتُكَ فِيْهَا أَنْ تَظْهَرَ الْحَقَّ وَلَا يَضِيْعَ، جَازَ الْبَحْثُ، لَكِنْ لِتِلْكَ الْإِرَادَةِ عَلَامَتَانِ:

Benar demikian, namun apabila terjadi suatu masalah antara kamu dan orang lain atau di antara suatu kaum, dan kamu berkeinginan untuk menampakkan kebenaran dan tidak menyia-nyiakannya, maka boleh membahasnya, akan tetapi keinginan semacam itu memiliki dua tanda;


إِحْدَاهُمَا: أَلَّا تُفَرِّقَ بَيْنَ أَنْ يَنْكَشِفَ الْحَقُّ عَلَى لِسَانِكَ أَوْ عَلَى لِسَانِ غَيْرِكَ.

Pertama, Kamu tidak membedakan antara apakah terungkapnya kebenaran itu melalui lisanmu atau melalui lisan orang lain.


وَالثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُوْنَ الْبَحْثُ فِي الْخَلَاءِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ فِي الْمَلَأِ.

Kedua, Kamu lebih menyukai pembahasan itu dilakukan ditempat yang sepi daripada ditempat keramaian.


وَاسْمَعْ أَنِّي أَذْكُرُ لَكَ هَهُنَا فَائِدَةً،

Perhatikanlah! Di sini aku akan menjelaskan kepadamu suatu faedah.


وَاعْلَمْ أَنَّ السُّؤَالَ عَنِ الْمُشْكِلَاتِ عَرْضُ مَرَضِ الْقَلْبِ اِلَى الطَّبِيْبِ، وَالْجَوَابُ لَهُ سَعْيٌ لِإِصْلَاحِ مَرَضِهِ.

Ketahuilah bahwa menanyakan suatu masalah yang sulit, sama halnya dengan memeriksakan penyakit hati kepada seorang tabib. Dan menjawabnya, sama halnya dengan berusaha menyembuhkan penyakit tersebut.


وَاعْلَمْ أَنَّ الْجَاهِلِيْنَ: الْمَرْضَى قُلُوْبُهُمْ، وَالْعُلُمُاءُ: الْأَطِبَّاءُ.

Ketahuilah bahwa orang-orang yang bodoh itu adalah orang yang menderita penyakit hati, dan orang-orang ‘alim adalah sebagai tabib (dokter)nya.


وَالْعَالِمُ النَّاقِصُ لَا يُحْسِنُ الْمُعَالَجَةَ، وَالْعَالِمُ الْكَامِلُ لَا يُعَالِجُ كُلَّ مَرِيْضٍ، بَلْ يُعَالِجُ مَنْ يَرْجُوْ قَبُوْلَ الْمُعَالَجَةِ وَالصَّلَاحِ،

Namun orang ‘alim yang tidak sempurna, tidak bisa mengobati penyakit. Dan orang ‘alim yang sempurna tidak bisa mengobati segala penyakit, bahkan ia hanya bisa mengobati penyakit orang yang bersedia diobati dan yang dapat diharapkan kesembuhannya.


وَإِذَا كَانَتْ الْعِلَّةُ مُزْمِنَةً أَوْ عَقِيْمًا لَا تَقْبَلُ الْعِلَاجَ، فَحَذَاقَةُ الطَّبِيْبِ فِيْهِ أَنْ يَقُوْلَ: هَذَا لَا يَقْبَلُ الْعِلَاجَ، فَلَا تَشْغَلْ فِيْهِ بِمُدَاوَاتِهِ لِأَنَّ فِيْهِ تَضْيِيْعَ الْعُمُرِ.

Apabila penyakitnya berupa lumpuh atau mandul yang tidak bisa diobati, maka seorang tabib yang cerdas tentu akan berkata; “Penyakit ini sudah tidak bisa disembuhkan, maka jangan menyibukkan diri dengan mengobatinya, karena hal itu akan membuang-buang waktu”. 


ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ مَرَضَ الْجَهْلِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْوَاعٍ : أَحَدُهَا يَقْبَلُ الْعِلَاجَ، وَالْبَاقِي لَا يَقْبَلُ.

Kemudian ketahuilah bahwa penyakit bodoh itu ada empat macam; Salahsatunya bisa diobati, dan yang lainnya tidak bisa diobati.


أَمَّا الَّذِي لَا يَقْبَلُ الْعِلَاجَ:

Adapun penyakit bodoh yang tidak bisa diobati ialah;


فَأَحَدُهَا: مَنْ كَانَ سُؤَالُهُ وَاعْتِرَاضُهُ عَنْ حَسَدِهِ وَبُغْضِهِ، فَكُلَّمَا تُجِيْبُهُ بِأَحْسَنِ الْجَوَابِ وَأَفْصَحِهِ، فَلَا يَزِيْدُ لَهُ ذَلِكَ إِلَّا بُغْضًا وَعَدَاوَةً وَحَسَدًا، فَالطَّرِيْقُ أَلَّا تَشْتَغِلَ بِجَوَابِهِ،

Pertama; Orang yang pertanyaan dan bantahannya bersumber dari kedengkian dan kebenciannya. Maka setiap kali pertanyaannya dijawab dengan sebaik-baik jawaban dan sejelas-jelasnya, jawaban terebut justru semakin menambah kebencian, permusuhan dan kedengkian. Maka jalan terbaik bagimu adalah, kamu tidak menyibukkan diri untuk menjawabnya.


فَقَدْ قِيْلَ: كُلُّ الْعَدَاوَةِ قَدْ تُرْجَى إِزَالَتُهَا #  إِلَّا عَدَاوَةَ مَنْ عَادَاكَ عَنْ حَسَدٍ

Sungguh tepat apa yang katakan oleh seorang penya’ir; Setiap permusuhan masih bisa diharapkan hilangnya # kecuali permusuhan orang yang memusuhimu yang timbul dari kedengkian.


فَيَنْبَغِي أَنْ تُعْرِضَ عَنْهُ، وَتَتْرُكَهُ مَعَ مَرَضِهِ؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى:{فَأَعْرِضْ عَمَّنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا}.

Maka seyogyanya kamu berpaling darinya dan membiarkannya tetap bersama dengan penyakitnya. Allah Ta’ala berfirman: “Maka tinggalkanlah orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia tidak enghendaki kecuali kehidupan dunia”. (Qs. An Najm; 29).



وَالْحَسُوْدُ بِكُلِّ مَا يَقُوْلُ وَيَفْعَلُ يُوْقِدُ النَّارَ فِي زَرْعِ عَمَلِهِ، كَمَا قَالَ النَّبِيّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ:" الْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ".

Kedengkian, dengan segala yang diucapkan atau yang dilakukan dapat menyalakan api di tengah-tengah ladang ‘amalnya sendiri. Sebagaiana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam; “Kedengkian akan memakan ‘amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”.


وَالثَّانِي: أَنْ تَكُوْنَ عِلَّتُهُ مِنَ الْحَمَاقَةِ، وَهُوَ أَيْضًا لَا يَقْبَلُ الْعِلَاجَ كَمَا قَالَ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنِّي مَا عَجَزْتُ عَنْ إِحْيَاءِ الْمَوْتَى، وَقَدْ عَجَزْتُ عَنْ مُعَالَجَةِ الْأَحْمَقِ.

Kedua; Orang yang penyakitnya timbul akibat dari kedunguan, ia juga tidak bisa diobati. Sebagaimana sabda Nabi Isa ‘alaihissalam; “Sungguh aku tidak kesulitan untuk menghidupkan orang yang telah mati, tetapi aku benar-benar kesulitan untuk mengobati kedunguan”.


وَذَلِكَ رَجُلٌ يَشْتَغِلُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ زَمَنًا قَلِيْلًا وَيَتَعَلَّمُ شَيْئًا قَلِيْلًا مِنَ الْعِلْمِ الْعَقْلِيّ وَالشَّرْعِيّ، فَيَسْأَلُ، وَيَعْتَرِضُ مِنْ حَمَاقَتِهِ عَلَى الْعَالِمِ الْكَبِيْرِ، الَّذِي أَمْضَى عُمُرَهُ فِي الْعُلُوْمِ: الْعَقْلِيَّةِ وَالشَّرْعِيَّةِ، وَهَذَا الْأَحْمَقُ لَا يَعْلَمُ، وَيَظُنُّ أَنَّ مَا أُشْكِلَ عَلَيْهِ هُوَ أَيْضًا مُشْكِلٌ لِلْعَالِمِ الْكَبِيْرِ، فَإِذَا لَمْ يَعْلَمْ هَذَا الْقَدْرَ يَكُوْنُ سُؤَالُهُ مِنَ الْحَمَاقَةِ، فَيَنْبَغِي أَلَّا يَشْتَغِلَ بِجَوَابِهِ.

Penyakit dungu adalah penyakit seseorang yang menuntut ‘ilmu dalam waktu yang singkat dan pernah sedikit menuntut ‘ilmu akal dan ‘ilmu syari’at. Lalu karena kedunguannya ia bertanya dan menentang orang ‘alim yang agung yang telah menghabiskan usianya untuk mendalami beberapa ‘ilmu termasuk ‘ilmu akal dan ‘ilmu syari’at, dan orang dungu ini tidak mengerti (derajat orang ‘alim), dan ia menyangka bahwa apa yang tidak jelas baginya juga tidak jelas bagi orang ‘alim yang agung. Manakala ia tidak mengerti derajat orang ‘alim, maka pertanyaannya menjadi bukti dari kedunguannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah untuk tidak menyibukkan diri dengan menjawabnya.


وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُوْنَ مُسْتَرْشِدًا، وَكُلَّ مَا لَا يَفْهَمُ مِنْ كَلَامِ الْأَكَابِرِ يُحْمَلُ عَلَى قُصُوْرِ فَهْمِهِ، وَكَانَ سُؤَالُهُ لِلْاِسْتِفَادَةِ، لَكِنْ يَكُوْنُ بَلِيْدًا لَا يُدْرِكُ الْحَقَائِقَ، فَلَا يَنْبَغِي الْاِشْتِغَالُ بِجَوَابِهِ أَيْضًا،

Ketiga; Orang yang bertanya dalam rangka meminta petunjuk. Sementara setiap perkataan orang ‘alim yang tidak difahami harus di terima sebagai pengakuan atas keterbatasan pemahamannya. Oleh karena pertanyaannya hanya untuk mencari faidah, padahal ia adalah orang yang dungu yang tidak mampu menjangkau hakikat suatu pengetahuan, maka tidak sepantasnya pula menyibukkan diri dengan menjawab pertanyaannya,



كَمَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:" نَحْنُ مَعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا أَنْ نُكَلِّمَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ"

sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kami golongan para Nabi diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka”.


وَأَمَّا الْمَرَضُ الَّذِي يَقْبَلُ الْعِلَاجَ، فَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ مُسْتَرِشْدًا عَاقِلًا فَهْمًا لَا يَكُوْنُ مَغْلُوْبَ الْحَسَدِ وَالْغَضَبِ وَحُبِّ الشَّهْوَةِ وَالْجَاهِ وَالْمَالِ. وَيَكُوْنُ طَالِبَ طَرِيْقِ الْمُسْتَقِيْمِ، وَلَمْ يَكُنْ سُؤَالُهُ وَاعْتِرَاضُهُ عَنْ حَسَدٍ، وَتَعَنُّتٍ وَامْتِحَانٍ، وَهَذَا يَقْبَلُ الْعِلَاجَ، فَيَجُوْزُ أَنْ تَشْتَغِلَ بِجَوَابِ سُؤَالِهِ بَلْ يَجِبَ عَلَيْكَ إِجَابَتُهُ.

Adapun penyakit yang masih mungkin diobati yaitu orang yang bertanya karena mengharapkan petunjuk, dan ia memiliki akal serta pemahaman yang kuat, tidak terkalahkan oleh sifat dengki, benci, menuruti hawa nafsu, cinta kedudukan dan harta, senantiasa mencari jalan kebenaran, dan pertanyaanya serta sanggahannya bukan karena kedengkian, memojokkan dan menguji. Orang seacam ini masih mungkin diobati, maka boleh menjawab pertanyaannya bahkan wajib bagimu untuk menjawabnya.


وَالثَّانِي مِمَّا تدَعُ: وَهُوَ أَنْ تَحْذَرَ وَتَحْتَرِزَ مِنْ أَنْ تَكُوْنَ وَاعِظًا وَمُذَكِّرًا؛ لِأَنَّ فِيْهِ آفَةً كَثِيْرَةً إِلَّا أَنْ تَعْمَلَ بِمَا تَقُوْلُ أَوَّلًا، ثُمَّ تَعِظُ بِهِ النَّاسَ، فَتَفَكَّرَ فِيْمَا قِيْلَ لِعِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا ابْنَ مَرْيَمَ عِظْ نَفْسَكَ، فَإِنِ اتَّعَظَتْ فَعِظْ النَّاسَ، وَإِلَّا فَاسْتَحِ مِنْ رَبِّكَ.

Kedua, dari empat hal yang harus kamu tinggalkan yaitu; Hendaklah kamu mawas diri dan menjauh dari menjadi juru nasehat dan pemberi peringatan. Karena didalamnya terdapat bahaya yang sangat besar, kecuali apabila kamu mengamalkan apa yang kamu ucapkan terlebih dahulu kemudian kamu memberi nasehat dengannya kepada orang-orang. Renungkanlah apa yang dikatakan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam; Hai putra Maryam nasehatilah dirimu sendiri, jika dirimu telah menerima nasehat, maka silahkan kamu memberi nasehat kepada orang-orang, jika belum, maka merasa malulah kepada Tuhanmu.


وَإِنِ ابْتُلِيْتَ بِهَذَا الْعَمَلِ فَاحْتَرِزْ عَنْ خَصْلَتَيْنِ:

Apabila kamu terpaksa diuji dengan pekerjaan ini, maka kamu harus menjaga diri dari dua perkara;


الْأُوْلَى: عَنِ التَّكَلُّفِ فِي الْكَلَامِ بِالْعِبَارَاتِ وَالْإِشَارَاتِ وَالطَّامَّاتِ وَالْأَبْيَاتِ وَالْأَشْعَارِ؛ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَبْغَضُ الْمُتَكَلِّفِيْنَ، وَالْمُتَكَلِّفُ الْمُتَجَاوِزُ عَنِ الْحَدِ، يَدُلُّ عَلَى خَرَابِ الْبَاطِنِ وَغَفْلَةِ الْقَلْبِ.

Pertama, Jangan memaksakan diri dalam berbicara dengan mengada-ada ungkapan-ungkapan, isyarat-isyarat, penghias kata dan bait-bait sya’ir, karena Allah Ta’ala benci kepada orang-orang yang mengada-ada. Dan orang yang mengada-ada yang melampaui batas, menunjukkan kerusakan batinnya, dan kelalaian hatinya


وَمَعْنَى التَّذْكِيْرِ: أَنْ يَذْكُرَ الْعَبْدُ نَارَ الْآخرَةِ، وَتَقْصِيْرَ نَفْسِهِ فِي خِدْمَةِ الْخَالِقِ وَيَتَفَكَّرْ فِي عُمْرِهِ الْمَاضِي الَّذِي أَفْنَاهُ فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ وَيَتَفَكَّرَ فِيْمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْعَقَبَاتِ مِنْ عَدَمِ سَلَامَةِ الْإِيْمَانِ فِي الْخَاتِمَةِ، وَكَيْفِيَّةِ حَالِهِ فِي قَبْضِ مَلَكِ الْمَوْتِ، وَهَلْ يَقْدِرُ عَلَى جَوَابِ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ؟ وَيَهْتَمُّ بِحَالِهِ فِي الْقِيَامَةِ وَمَوَاقِفِهَا، وَهَلْ يَعْبُرُ عَنِ الصِّرَاطِ سَالِمًا أَمْ يَقَعُ فِي الْهَاوِيَةِ؟ وَيَسْتَمِرُّ ذِكْرُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ فِي قَلْبِهِ، فَيُزْعِجُهُ عَنْ قَرَارِهِ، فَغَلَيَانُ هَذِهِ النِّيْرَانِ، وَنَوْحَةُ هَذِهِ الْمَصَائِبِ يُسَمَّى تَذْكِيْرًا،

Adapun yang di maksud “Peringatan” (Tadzkir) ialah; Seseorang memberi peringatan tentang panasnya api neraka, keclalaian dirinya dalam menghambakan diri kepada Sang Pencipta, mengajak berfikir tentang usianya yang telah berlalu yang digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna, berfikir tentang apa yang ada dihadapannya yang berupa jalan terjal lagi sulit, tidak adanya jaminan keselamatan iman di akhir hayatnya, bagaimanakah keadaannya ketika malaikat maut datang menjemputnya, mampukah menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir?, memprihatinkan keadaannya dihari kiamat dan di Mahsyar, mampukah melewati Shirat dengan selamat, ataukah akan ke dalam neraka Hawiyah?. Senantiasa mengingat-ingat perkara ini di dalam hatinya hingga membangkitkan semangatnya, menyalakan cahaya hatinya dan menangisi semua musibah ini dinamakan peringatan (Tadzkir).


وَإِعْلَامُ الْحَقِّ وَإِطْلَاعُهُمْ عَلَى هَذِهِ الْأَشْيَاءِ، وَتَنْبِيْهُهُمْ عَلَى تَقْصِيْرِهِمْ وَتَفْرِيْطِهِمْ، وَتَبْصِيْرِهِمْ بِعُيُوْبِ أَنْفُسِهِمْ لِتَمَسَّ حَرَارَةُ هَذِهِ النِّيْرَانِ أَهْلَ الْمَجْلِسِ، وَتُجْزِعَهُمْ تِلْكَ الْمَصَائِبُ لِيَتَدَارَكُوْا الْعُمُرَ الْمَاضِيَ بِقَدْرِ الطَّاقَةِ، وَيَتَحَسَّرُوا عَلَى الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ فِي غَيْرِ طَاعَةِ اللهِ تَعَالَى. وَهَذِهِ الْجُمْلَةُ عَلَى هَذَا الطَّرِيْقِ يُسَمَّى وَعْظًا،

Sedangkan memberi tahu tentang kebenaran kepada orang lain, menunjukkan semua perkara tersebut (di atas), mengingatkan mereka atas kelalaian dan kecerobohan mereka serta memperlihatkan kepada mereka akan aib diri mereka agar pemikiran yang menyala ini dapat menyentuh hati mereka, dan pemikiran terhadap semua malapetaka tersebut dapat membangkitkan mereka untuk berusaha memperbaiki kesalahan mereka pada masa-masa yang telah lalu sesuai dengan kemampuan yang ada, dan mereka menyesali diri atas hari-hari yang mereka lalui yang digunakan untuk selain ketha’atan kepada Allah Ta’ala. Semua pekerjaan seperti ini yang dilakukan dengan cara yang telah disebutkan tadi dinamakan nasehat (mau’idzah).


كَمَا لَوْ رَأَيْتَ أَنَّ السَّيْلَ قَدْ هَجَمَ عَلَى دَارِ أَحَدٍ، وَكَانَ هُوَ وَأَهْلُهُ فِيْهَا، فَتَقُوْلُ: الْحَذَرَ الْحَذَرَ فِرُّوْا مِنَ السَّيْلِ!!

Demikian itu sama seperti apabila kamu melihat bahwa banjir telah melanda rumah seseorang, dan penghuninya serta seluruh keluarganya masih berada di dalam rumah, lalu kamu berkata; “Awas banjir, awas banjir, larilah kalian dari banjir”.


وَهَلْ يَشْتَهِي قَلْبُكَ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ أَنْ تُخْبِرَ صَاحِبَ الدَّارِ خَبَرَكَ بِتَكَلُّفِ الْعِبَارَاتِ، وَالنُّكَتِ وَالْإِشَارَاتِ؟

Apakah dalam situasi seperti ini, kamu masih ingin memaksakan diri untuk mengabarkan kepada penghuni rumah itu dengan berbagai macam ibarat, kata-kata lelucon dan isyarat-isyarat?


فَلَا تَشْتَهِي الْبَتَّةَ؛ فَكَذَلِكَ حَالُ الْوَاعِظِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَجْتَنِبَهَا.

Tentunya kamu tidak menginginkannya sama sekali, maka demikian pula halnya dalam memberi nasehat, seorang pemberi nasehat (mau’idzah) hendaknya menjauhi kalimat-kalimat dan isyarat-isyarat tersebut.


الْخَصْلَةُ الثَّانِيَةُ: أَلَّا تَكُوْنَ هِمَّتُكَ فِي وَعْظِكَ أَنْ يَنْعَرَ الْخَلْقُ فِي مَجْلِسِكَ وَيُظْهِرُوْا الْوُجْدَ، وَيَشُقُّوْا الثِّيَابَ، لِيُقَالَ: نِعْمَ الْمَجْلِسُ هَذَا؛ لِأَنَّ كُلَّهُ مَيْلٌ لِلدُّنْيَا (((وَالرِّيَاءِ)))،

Hendaknya kamu tidak bertujuan dalam memberikan nasehatmu itu agar manusia berduyun-duyun datang berkumpul di majlismu, atau agar mereka menampakkan rasa kagum dengan kebolehanmu dan selalu memperhatikanmu hingga dikatakan; “Sebaik-baik majlis adalah majlis ini, karena yang lainnya ada kecondongan terhadap dunia”.


وَهُوَ يَتَوَلَّدُ مِنَ الْغَفْلَةِ، بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ عَزْمُكَ وَهِمَّتُكَ أَنْ تَدْعُو النَّاسَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَى الْآخِرَةِ، وَمِنَ الْمَعْصِيَةِ إِلَى الطَّاعَةِ، وَمِنَ الْحِرْصِ إِلَى الزُّهْدِ، وَمِنَ الْبُخْلِ إِلَى السَّخَاءِ، وَمِنَ الْغُرُوْرِ إِلَى التَّقْوَى،

Tujuan yang demikian itu adalah akibat dari kelalaian. Seharusnya maksud dan tujuanmu dalam memberi nasehat ialah untuk mengajak manusia berpaling dari dunia menuju akhirat, lari dari ma’shiyat menuju ketha’atan, menjauh dari sifat loba menuju kezuhudan, meninggalkan sifat pelit menuju sifat dermawan dan menghindar dari tipuan menuju ketakwaan.


وَتُحَبِّبَ إِلَيْهِمْ الْآخِرَةَ، وَتُبَغِّضَ إِلَيْهِمْ الدُّنْيَا، وَتُعَلِّمَهُمْ عِلْمَ الْعِبَادَةِ وَالزُّهْدِ؛ وَلَا تُغِرَّهُمْ بِكَرَمِ اللهِ تَعَالَى عَزَّ وَجَلَّ وَرَحْمَتِهِ،

Hendaknya dalam memberikan nasehat, kamu mengajak mereka cinta terhadap akhirat dan benci terhadap dunia. Dan hendaknya kamu mengajarkan mereka ‘ilmu tentang ber’ibadah dan zuhud, serta tidak membuat mereka terpedaya dengan kemurahan Allah Ta’ala dan tertipu dengan rahmat-Nya ‘Azza wa Jalla.


لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى طِبَاعِهِمْ الزَّيْغُ عَنْ مَنْهَجِ الشَّرْعِ، وَالسَّعْيُ فِيْمَا لَا يَرْضَى اللهُ تَعَالَى بِهِ، وَالْاِسْتِعْثَارُ بِالْأَخْلَاقِ الرَّدِيَّةِ، فَأَلْقِ فِي قُلُوْبِهِمْ الرُّعْبَ، وَرَوِّعْهُمْ، وَحَذِّرْهُمْ عَمَّا يَسْتَقْبِلُوْنَ مِنَ الْمَخَاوِفِ؛ وَلَعَلَّ صِفَاتِ بَاطِنِهِمْ تَتَغَيَّرُ، وَمُعَامَلَةَ ظَاهِرِهِمْ تَتَبَدَّلُ، وَيَتَظَهَّرُوْا الْحِرْصَ وَالرُّغْبَةَ فِي الطَّاعَةِ وَالرُّجُوْعِ عَنِ الْمَعْصِيَّةِ،

Karena pada umunya watak manusia melencenga dari rambu-rambu syari’at, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridlai Allah Ta’ala, serta terperosok ke lembah akhlak yang tercela. Oleh karena itu tanamkan dalam hati mereka rasa takut, takut-takutilah dan peringatkanlah mereka akan bahaya yang mengerikan yang akan mereka hadapi. Barangkali dengan cara ini sifat-sifat batiniyah mereka berubah dan cara hidup mereka berganti dengan yang lebih baik sehingga mereka dapat menampakkan rasa seti dan cinta pada ketha’atan serta meninggalkan segala bentuk kema’siyatan.


وَهَذَا طَرِيْقُ الْوَعْظِ وَالنَّصِيْحَةِ، وَكُلُّ وَعْظٍ لَا يَكُوْنُ هَكَذَا فَهُوَ وَبَالٌ عَلَى مَنْ قَالَ وَسَمِعَ، بَلْ قِيْلَ: إِنَّهُ غَوْلٌ وَشَيْطَانٌ، يَذْهَبُ بِالْخَلْقِ عَنِ الطَّرِيْقِ وَيُهْلِكُهُمْ، فَيَجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يَفِرُّوْا مِنْهُ؛

Inilah cara memberi nasehat yang benar. Dan setiap nasehat yang tidak memiliki cirri-ciri seperti ini, nasehat itu akan menjadi malapetaka bagi orang yang berkata dan orang yang mendengarkannya, bahkan dikatakan bahwa ia termasuk golongan hantu dan syetan yang mengajak manusia menyimpang dari jalan yang benar dan membawa mereka ke dalam jurang kebinasaan. Maka wajiblah bagi mereka untuk lari darinya.


لِأَنَّ مَا يُفْسِدُ هَذَا الْقَائِلَ مِنْ دِيْنِهِمْ لَا يَسْتَطِيْعُ بِمِثْلِهِ الشَّيْطَانُ،

Karena kerusakan yang dilakukan oleh seorang pemberi nasehat seperti ini dalam urusan agama mereka adalah lebih besar daripada kerusakan yang dilakukan oleh syetan sehingga syetan pun tidak mampu menandinginya.


وَمَنْ كَانَتْ لَهُ يَدٌ وَقُدْرَةٌ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَنْزِلَهُ عَنْ مَنَابِرِ الْمَوَاعِظِ وَيَمْنَعَهُ عَمَّا بَاشَرَهُ، فَإِنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ.

Maka barangsiapa yang memiliki kekuatan dan kekusaan wajib baginya untuk menurunkan orang seperti itu dari mimbar-mimbar nasehat dan mencegahnya dari memberikan nasehat-nasehatnya, karena ini merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.



وَالثَّالِثُ مِمَّا تَدَعُ: أَنْ لَا تُخَالِطَ الْأُمَرَاءَ وَالسَّلَاطِيْنَ وَلَا تَرَاهُمْ، لِأَنَّ رُؤْيَتَهُمْ وَمُجَالِسَتَهُمْ وَمُخَالِطَتَهُمْ آفَةٌ عَظِيْمَةٌ،

Ketiga, dari empat hal yang harus kamu tinggalkan yaitu; Janganlah kamu bergaul dengan para pejabat dan penguasa serta jangan melihat kepada mereka, karena melihat kepada mereka, duduk bersama mereka dan bergaul dengan mereka terdapat malapetaka yang besar.


وَلَوِ ابْتُلِيْتَ بِهَا دَعْ عَنْكَ مَدْحَهُمْ وَثَنَاءَهُمْ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَغْضَبُ إِذَا مُدِحَ الْفَاسِقُ وَالظَّالِمُ، وَمَنْ دَعَا لِطُوْلِ بَقَائِهِمْ فَقَدْ أَحَبَّ أَنْ يَعْصِى اللهَ فِي أَرْضِهِ.

Apabila kamu diuji dengan hal yang demikian itu, maka jangan sekali-kali kamu memuji dan menyanjung mereka, karena Allah Ta’ala benci ada orang fasik atau orang dzalim yang di puji-puji. Dan barangsiapa yang mendo’akan mereka panjang umur, maka ia benar-benar lebih suka berma’shiyat kepada Allah di atas bumi-Nya.


وَالرَّابِعُ مِمَّا تَدَعُ: أَلَّا تَقْبَلَ شَيْئًا مِنْ عَطَاءِ الْأُمَرَاءِ وَهَدَايَاهُمْ وَإِنْ عَلِمْتَ أَنَّهَا مِنَ الْحَلَالِ،

Keempat, dari empat hal yang harus kamu tinggalkan yaitu; Jangan sekali-kali kamu menerima pemberian atau hadiah sedikitpun dari para penguasa, walaupun kamu tahu bahwa yang diberikannya itu dari barang yang halal.


لِأَنَّ الطَّمَعَ مِنْهُمْ يُفْسِدُ الدِّيْنَ، لِأَنَّهُ يَتَوَلَّدُ مِنْهُ الْمُدَاهَنَةُ، وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِمْ وَالْمُوَافَقَةُ فِي ظُلْمِهِمْ، وَهَذَا كُلُّهُ فَسَادٌ فِي الدِّيْنِ،

Karena tamak terhadap pemberian dari mereka dapat merusak agama, karena dari tamakmu itu akan lahir sifat penjilat, berfihak kepada mereka dan mendukung kedzaliman mereka. Semua ini merupakan kerusakan yang nyata dalam agama.


وَأَقَلُّ مَضَرَّتِهِ أَنَّك إِذَا قَبِلْتَ عَطَايَاهُمْ، وَانْتَفَعْتَ مِنْ دُنْيَاهُمْ أَحْبَبْتَهُمْ،

Bahaya yang paling ringan apabila kamu menerima pemberian mereka atau mengambil manfa’at dari dunia mereka ialah kamu akan mencintai mereka


وَمَنْ أَحَبَّ أَحَدًا يُحِبُّ طُوْلَ عُمْرِهِ، وَبَقَاءِهِ بِالضَّرُوْرَةِ، وَفِي مَحَبَّةِ بَقَاءِ الظَّالِمِ إِرَادَةٌ فِي الظُّلْمِ عَلَى عِبَادِ اللهِ تَعَالَى، وَإِرَادَةُ خَرَابِ الْعَالَمِ، فَأَيُّ شَيْءٍ يَكُوْنُ أَضَرَّ مِنْ هَذَا عَلَى الدِّيْنِ وَالْعَاقِبَةِ.

Barangsiapa yang yang mencintai seseorang, pasti ia menginginkan agar dipanjangkan umurnya dan ditetapkan dalam jabatannya, sedangkan mencintai dan menginginkan agar orang dzalim itu dutetapkan dalam jabatannya, demikian itu sama halnya dengan menghendaki tetapnya kedzaliman terhadap hamba-hamba Allah Ta’ala dan menhendaki kehancuran dunia ini. Maka mana lagi suatu perkara yang lebih bahaya bagi agama dan akhirat sekain daripada perkara ini?


وَإِيَّاكَ إِيَّاكَ أَنْ يَخْدَعَكَ اسْتِهْوَاءُ الشَّيَاطِيْنِ أَوْ قَوْلُ بَعْض النَّاسِ لَكَ: بِأَنَّ الْأَفْضَلَ وَالْأَوْلَى أَنْ تَأْخُذَ مِنْهُمْ الدِّيْنَارَ وَالدِّرْهَمَ، وَتُفَرِّقَهُمَا بَيْنَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ؛ فَإِنَّهُمْ يُنْفِقُوْنَ فِى الْفِسْقِ وَالْمَعْصِيَةِ، وَإِنْفَاقُكَ عَلَى ضُعَفَاءِ النَّاسِ خَيْرٌ مِنْ إِنْفَاقِهِمْ؛

Waspadalah dan waspadalah dirimu terhadap tipu daya syetan yang selalu menyesatkan. Atau perkataan sebagian orang yang mengatakan bahwa yang lebih baik dan lebih utama yaitu hendaknya kamu ambil dinar dan dirham dari mereka, lalu kamu bagi-bagikan uang itu kepada orang-orang fakir dan miskin. Karena kalau tidak, mereka akan menggunakannya dalam kefasikan dan kema’shiyatan, dengan demikian, maka penyaluranmu terhadap orang-orang adalah lebih baik daripada penyaluran mereka.


فَإِنَّ اللَّعِيْنَ قَدْ قَطَعَ أَعْنَاقَ كَثِيْرٍ مِنَ النَّاسِ بِهَذِهِ الْوَسْوَسَةِ، وَآفَتُهُ كَثِيْرَةٌ، قَدْ ذَكَرْنَاهَا فِي إِحْيَاءِ الْعُلُوْمِ فَاطْلُبْهُ ثَمَّةَ.

Sesungguhnya syaitan yang terla’nat itu telah banyak menjerumuskan orang-orang dengan godaan seacam ini, bahayanya sangat besar, dan masalah ini telah kami terangkan panjang lebar didalam Ihya’ Ulumiddin, maka carilah ia di sana.


وَأَمَّا الْأَرْبَعَةُ الَّتِي يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تَفْعَلَهَا:

Adapun empat perkara yang seharusnya kamu lakukan itu ialah;


فَالْأُوْلَى: أَنْ تَجْعَلَ مُعَامَلَتَكَ مَعَ اللهِ تَعَالَى، بِحَيْثُ لَوْ عَامَلَ مَعَكَ بِهَا عَبْدُكَ تَرْضَى بِهَا مِنْهُ، وَلَا يَضِيْقُ خَاطِرُكَ عَلَيْهِ وَلَا تَغْضَبُ، وَالَّذِي لَا تَرْضَى لَنَفْسِكَ مِنْ عَبْدِكَ الْمَجَازِيّ فَلَا تَرْضَى أَيْضًا لِلهِ تَعَالَى وَهُوَ سَيِّدُكَ الْحَقِيْقِيُّ.

Pertama, Hendaknya kamu menjadikan pengabdianmu kepada Allah Ta’ala, sebagaimana layaknya seorang budak yang baik, seperti apabila kamu memiliki seorang budak, dan budakmu telah mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik untukmu, pasti kamu suka dengan pekerjaannya, hatimu akan merasa puas dan tidak marah kepadanya. Demikian pula, apapun yang tidak kamu sukai dari pekerjaan budakmu (secara majaz, dengan arti seluruh hamba Allah), kamu pun tidak boleh rela mengerjakannya untuk (tuanmu yaitu) Allah Ta’ala, karena Dia adalah Tuan-mu yang sebenarnya.


وَالثَّانِي: كُلَّمَا عَمِلْتَ بِالنَّاسِ اجْعَلْهُ كَمَا تَرْضَى لِنَفْسِكَ مِنْهُمْ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكْمُلُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يُحِبُّ لِسَائِرِ النَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

Kedua, Manakala kamu melakukan sesuatu terhadap orang lain, maka lakukanlah sebagaimana kamu rela melakukannya untuk dirimu sendiri. Karena tidak akan sempurna iman seorang hamba sehingga ia mencintai untuk orang lain apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.


وَالثّالِثُ: إِذَا قَرَأْتَ الْعِلْمَ أَوْ طَالَعْتَهُ، يَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ عِلْمُكَ عِلْمًا يُصْلِحُ قَلْبَكَ وَيُزَكِّي نَفْسَكَ، كَمَا لَوْ عَلِمْتَ أَنَّ عُمُرَكَ مَا يَبْقَى غَيْرَ أُسْبُوْعٍ،

Ketika kamu mempelajari atau menela’ah suatu ‘ilmu pengetahuan, hendaknya ‘ilmu yang kamu pelajari itu merupakan ‘ilmu yang dapat memperbaiki hatimu dan dapat membersihkan jiwamu. Seperti halnya apabila kamu mengetahui bahwa usiamu hanya tersisa satu minggu lagi,


فَبِالضَّرُوْرَةِ لَا تَشْتَغِلُ فِيْهَا بِعِلْمِ الْفِقْهِ وَالْخِلَافِ وَالْأُصُوْلِ وَالْكَلَامِ وَأَمْثَالِهَا؛ لِأَنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذِهِ الْعُلُوْمَ لَا تُغْنِيْكَ، بَلْ تَشْتَغِلُ بِمُرَاقَبَةِ الْقَلْبِ، وَمَعْرِفَةِ صِفَاتِ النَّفْسِ، وَالْإِعْرَاضِ عَنْ عَلَائِقِ الدُّنْيَا، وَتُزَكِّي نَفْسَكَ عَنِ الْأَخْلَاقِ الذَّمِيْمَةِ، وَتَشْتَغِلُ بِمَحَبَّةِ اللهِ تَعَالَى وَعِبَادَتِهِ، وَالْإِتِّصَافِ بِالْأَوْصَافِ الْحَسَنَةِ، وَلَا يَمُرُّ عَلَى عَبْدٍ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ إِلَّا وَيُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ مَوْتُهُ فِيْهِ.

maka pasti kamu tidak menyibukkan diri dengan mempelajari ‘ilmu fiqih, khilafiyah, ushul, kalam dan semacamnya, karena kamu tahu bahwa semua ‘ilmu ini tidak akan bermanfa’at bagimu (karena sebentar lagi kamu akan mati), akan tetapi kamu pasti akan sibuk dengan mendekatkan diri kepada Allah, mempelajari sifat-sifat kejernihan jiwa, berpaling dari urusan duniawi, membersihkan jiwamu dari akhlak yang tercela, sibuk dengan cinta dan ber’ibadah kepada Allah Ta’ala dan berhias diri denga sifat-sifat yang terpuji. Karena tiada siang maupun malam yang berlalu bagi seorang hamba, malainkan disanalah mungkin kematiannya berada.